Rasa ‘Internasionalisme’ Yang Lebih Tinggi Daripada Rasa ‘Nasionalisme’.

Posted: 12/01/2012 in Uncategorized

pernah gak kalian kepikir kalo pernyataan dari judul diatas itu adalah benar?

enggak semua anak muda jaman sekarang hafal sama bunyi pancasila , terutama cewek kota  jaman sekarang. sila pertama & kedua mungkin mereka masih bisa hafal. tapi sila ke tiga , empat , lima? hmm

beda lagi kalo ditanyaain apakah mereka hafal sama nama2 personilnya super junior. mungkin banyak dari mereka yang hafal semua personil nya. bukan cuma super junior sih , tapi mungkin boyband2 yang lain juga.  itulah salah satu contoh rasa internasionalisme yang melebihi nasionalisme.

ehem. setelah di post sebelumnya iJefferson.wordpress.com sudah mendefinisikan apa kah artinya jatuh cinta,  kali ini iJefferson.wordpress.com akan mendefinisikan apa sih artinya nasionalisme itu.

mungkin nasionalisme itu bisa diartiin rasa cinta kepada negara ,  yang muncul dari dalam diri kita sendiri. iya , dari dalam diri kita sendiri.

(buat cowok yang suka sama bola) , kebanyakan dari mereka bakal marah kalo tim eropa kesayangannya di cela sama orang lain. tapi, bagaimana dengan timnas nya sendiri?  banyak dari mereka yang justru mencela permainan timnasnya sendiri. enggak ngerti juga kenapa.  dan lebih hafal manakah mereka, lebih hafal bunyi pancasila atau malah lebih hafal nama2 pemain bola jagoan mereka?.

nasionalisme itu seharusnya ditunjukan dengan bentuk perbuatan , bukan cuma ucapan semata. rasa nasionalisme itu muncul dalam diri sendiri , bukannya malah dipaksa keluar dari dalam diri kita.

ketika kita marah bangsa kita dilecehkan bangsa lain, ketika kita marah budaya negri ini diklaim negri lain, ketika kita lelah dengan kisah miris tenaga kerja kita yang ada diluar negri dan ketika kita dengan tulus & menggebu-gebu mendukung timnas sepakbola kita.  ketika itulah rasa nasionalisme kita secara sederhana keluar dari diri kita sendiri.

jadi, seberapa nasionalisme kah kalian?

Iklan
Komentar
  1. world citizen berkata:

    Saya penganut internasionalisme, humanisme dan realisme.

    Internasionalisme adalah sebuah pandangan hidup atau mindset yang tidak seperti anda bahas ini, disamping terlalu sempit dan ngaur.

    internasionalisme lebih realistis dibanding nasionalisme yg cm di passport.
    nasionalisme sbg gagasan yang baru berkembang di abad ke-18 ini, saya tidak merasa relevansi yang jelas dengan kehidupan yg faktual dan esensial.

    ketika saya melawan penjajah, itu murni karena penjajahan adalah musuh dunia yang bertentangan dengan perikemanusiaan & perikeadilan. secara nurani dan logika otomatis diri ini tidak membenarkan dan tergugah untuk melawan segala bentuk penindasan, karena saya melawan demi terciptanya keadilan, bukan nasionalisme. dan siapapun mereka (termasuk negara saya andaikan) melakukan penjajahan, maka sayapun akan menumpasnya. entah saya tidak merasa melawan penjajahan itu adalah nasionalisme (justru kolonialisme itu ada karena nasionalisme).
    ketika saya merawat dan menjaga tanah air, saya langsung berfikir karena saya tidak ingin terjadi kerusakan lingkungan dimana-mana yg dapat menimbulkan banyak kerugian selain penyakit, semata-mata karena kontribusi saya demi penghijauan bumi, jadi saya tidak merasa terdorong melakukan ini karena harus nasionalis dulu.

    saya jd berpikir, jangan2 nasionalisme itu hanya nostalgia sejarah di masa silam yang padahal waktu tidak akan pernah berputar kembali dan manusia akan terus melangkah kedepan, sukses atau tidaknya, baik atau buruknya manusia tidak ditentukan oleh masa lalu, karena mau jadi apa mereka kelak ya masing-masing yg menentukan dan menanggung, secara logika saya tidak pernah merasa kebesaran seseorang itu karena bangsa apa ras apa suku apa, melainkan karena akhlak & ilmunya dan prestasi yang ia raih, karena orang tolol, kejam dan idiot eksis diberbagai belahan dunia dari bangsa manapun.

    semakin berkembangnya zaman.. nasionalisme semakin bias pengertiannya, batas-batas geografi menjadi semu, ketika alam bumi ini memang sdh kodratnya dinamis, universal dan simbiosis-mutualisme, maka globalisasi keniscayaan tak terelakkan.
    lalu saya mulai merasa nasionalisme hanya alat untuk menjerat eksplorasi diri sbg mahluk sosial yang independen.
    andai nasionalisme itu berarti sebatas melarang manusia dalam kebebasan bercita rasa & interest seperti lebih banyak melakoni kearifan luar, ketokohan luar, kesenian luar, dan peradaban luar (aku punya teman begini), saya rasa itu sdh passion dan kesetujauan visinya atas banyak hal yang datang secara natural (tidak terpaksa dan dipaksa) karena dirasa lebih bisa memajukan kualitasnya dan sesuai karakter, hal itu sdh ranah privasi sbg HAM yg tdk berhak dilarang-larang sebagaimana jg pindah kewarganegaraan. saya yang menyukai Death Metal pun mana bisa dipaksa-paksa menyukai keroncong, saya yg sama sekali tidak tau bagaimana wayang itu juga tidak menjadikan saya orang yg tidak bisa mapan dan mencari uang, saya yang lebi menyukai tari flamenco gypsy juga tidak bisa dipaksa utk suka tari kecak karena memang gak suka mau diapain? harus ngajak saya berantem dulu gt? memangnya saya merugikan atau mengusik idup elu jg kagak kan. ada teman saya yg spt ini, ia jg tidak berbuat kriminal, asusila, atau mengusik privacy org lain, dan tidak juga menjadikan dia seorang penjudi, perampok, dan pemabuk. knp kita harus saling ganggu ketika yg menentukan mau jadi apa kita kelak itu adalah kita sendiri yg menentukan, sukses atau tidaknya itu tanggung jawab masing-masing, nasib orang bukan anda yg menentu-nentukan, jadi silahkan utk tidak usah ikut campur hidup orang lain.
    ketika banyak teman-teman saya yg menikah dg berbagai WNA asal Russia, Japan, Turki, Swedia, Malaysia, lalu ganti WN mengikut pasangan2nya ke negara-negara tsb, toh yang ia pikirkan pd akhirnya adalah kemapanan, keluarga, membesarkan anak-anaknya dan kebahagiaan rumah tangga, dan diantara merekapun berkata “nasionalisme itu di passport”, saya jd berfikir ada benarnya juga, orang kan punya hak kebebasan atas ini semua. saya rasa tidak ada yg lebih faktual dan esensial sbg nilai-nilai rill utk dilestarikan kecuali memperkaya akhlak dan ilmu agar terciptanya kedamaian dan kesejahteraan hidup bersama, karena saya tidak mungkin kemana-mana pakai koteka dan mengajarkannya kpd anak cucu saya, bukan ini yg perlu dilestarikan dalam hidup. basa-basi nasionalisme yg saya dengar bisanya cm teriak “ganyang sini ganyang sana” ampe mau sok ngajak perang dipikirnya segitu enteng apa numpahin nyawa orang, lalu masuk surga? konyol.
    saya rasa memang tidak sepantasnya manusia-manusia mengukung diri dg primordialisme nasionalisme, ironis, karena kemajuan dan perkembangan yg kita nikmati saat ini jg berkat peranan besar orang-orang luar, dan ironisnya lg, tidak ada bangsa atau peradaban didunia manapun yg tidak merupakan hasil kawin-mawin cultural serta ras, dan ia terus bergerak dinamis kedepan berkat sumbangsih dari kaum-kaum diluarnya. Jangan merasa eksklusif dan paling spesial di dunia ini, simbiosis-mutualisme global adalah kodrat dan keniscayaan.
    Saya tidak akan mengatakan bahwa saya berani mati untuk negara atau negara manapun, tetapi saya berani ketika apa yang saya lakukan itu benar dan berpihak pada kebenaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s